Wednesday, September 9, 2009

untitled (40)

"aku ngga kepingin sepuluh... duapuluh tahun lagi dari sekarang, aku masih merasa sakit di sini tiap kali ingat kamu"
Perahu Kertas - Dewi 'Dee' Lestari

setelah baca kalimat tersebut, sontak air mata netes ngga tau datangnya dari mana. seolah ada segumpalan kenyataan yang menggelitik saya, menyebarkan panas ke mata dan bikin air mata terus menetes sehingga perlu menutup buku sebentar, takut ketetesan air mata.
ah, saya jadi cengeng sekali nih, baca buku saja menangis.
tapi entah mengapa,
saya merasa kalimat itu seolah merangkum semua nya.
merangkum semua keragu- ragu an yang ada. semua ke tidak mampu dan ke tidak mau an yang saya punya. semua ke tidak rela- an yang selama ini ada.
ya, saya tau saya sudah janji untuk tidak lagi bicara soal dia.
saya juga sudah berjanji untuk tidak lagi menangis karena dia. eh tunggu, saya tidak menangis karena dia, saya menangis karena buku itu, dan karena diri saya sendiri. hehe...
tapi saya rasa nya tidak bisa tidak bicara soal dia kali ini.

saya memang sudah merelakan kalau memang tidak bisa bersama,
saya memang sudah mulai mampu merelakan kalau saya harus cari orang lain untuk disayang, dan harus rela dia cari orang lain untuk disayang.. hahaha...
tapi, semakin saya coba pahami, sejujurnya saya takut.
saya takut menyesal. saya takut kalau nanti saya menyesal.
sebagian dari diri saya sebenarnya takut tidak mampu melupakan.
sebagian lagi takut tidak akan pernah lupa.
tapi ada pula bagian yang memang tidak ingin melupakan apapun.
tapi saya juga takut seperti kugy (tokoh dalam Perahu Kertas). saya juga tidak mau kalau nanti sepuluh tahun, duapuluh tahun yang akan datang, saya akan tetap ngerasa sakit setiap kali ingat dia.
saya tidak mau sampai sepuluh, duapuluh tahun yang akan datang, saya masih menangis diam- diam kala ingat dia.
saya tidak mau sampai nanti sepuluh, duapuluh tahun yang akan datang saya masih bertanya- tanya apa cerita nya akan berbeda kalau saya sedikit lebih keras berusaha untuk dia...
saya tidak mau menyesal.
hanya itu.
saya takut menyesal.
saya takut saya nanti akan bertanya- tanya "bagaimana kalau?"
saya takut saya masih terus mengingat rasa nya bersama dia
karena mengingat rasa- rasa bersama dia hanya bikin saya ingat kalau saya masih mau dia.

Saturday, August 1, 2009

untitled (39)

seperti penjajah, tak habisnya kuras daya negri jajahannya
seperti lintah, tak habisnya sedot darah inang hingga kerontang
seperti lumpur hisap, tak habisnya hisap siapa saja yang menjejak.
beratus hari berdiam,
membiarkan diri terserap,
sampai sebuah titik lemah tak berdaya membangunkan
berdiri menegak meski kaki gemetar, hati menggeletar, jiwa menggegar
berdiri angkat diri.
usir penjajah,
lepaskan diri dari lintah,
angkat tubuh dari lumpur hisap.
andai ada yang tau sulitnya.

diri menggirang atas pikir telah bebas.
tapi dirasa- rasa, ntah mengapa malah memerih.
sisa- sisa lebam semakin mengilu
sisa- sisa luka semakin pedih
malah berandai andai tak lepaskan diri saja.
sakitnya tak sesakit sekarang.

butuh berpuluh hari
bikin diri buang candu
candu rasa sakit yang selalu ada.
berpuluh malam bikin diri bersih dari perih pedih yang tersisa.
jadi bisakah kamu jangan lagi ada disini?
jangan buat aku mencandu sakit lagi?

Friday, July 31, 2009

untitled (38)

i ain't said that i stopped loving you.
i just starting to face the reality of us not being able to be together anymore..
so,
would you mind to minimize the circumstances that had a chance to make me want you anymore?

untitled (37)

sudah bukan lagi perihal aku masih ada sisa hati
sudah lagi bukan masalah aku ingin bersama
tapi perkara kerela-an.
rela sudah hati tak bisa bersama.
rela sudah diri kalau memang tak mungkin berjajar bersebelahan.
melupa terdengar mustahil.
jadi coba merela saja...

Tuesday, July 28, 2009

untitled (36)

maybe it's better for you not to come around me anymore.
maybe it's better for you to disappear...
maybe it's better for you to go cruel to me...
because how it possible i can handling my self if you still around me?
how it be possible for me to handle my self if you still here treat me like there's nothing happen?
how could it be possible for me to let you go if you still act like it was yesterday, like it was one of our happy day?
and how it is possible for me to stop this stupidity called waiting if you still wandering around like you do want to be waited?

Monday, July 27, 2009

untitled (35)

seolah kecanduan.
disuntik berjuta kalipun, candu nya tak akan hilang.
malah semakin candu.
sejak mula sudah paham.
tapi pura- pura tak paham. ntah nekat, ntah bodoh.
bukannya bernyaman- nyaman,
bertenang- tenang,
malah nagih huru- hara, bikin luka lama koak semakin lebar.
diiring lelagu perih, mata memerih, memerah. merah. perih.
jatuh. terjatuh.
tersungkur. menyungkur.
tak sanggup keluar air mata, mata hanya meradang.
berlagak tegak, padahal sudah mau tumbang sekali tiup.
berujar terakhir padahal hati bicara lain.

Monday, July 6, 2009

untitled (34)

entah berapa ratus hari yang lalu,
dia menggenggam jemariku di dalam saku jaket hoody nya, menatapku dengan sepasang mata yang beberapa waktu terakhir sudah jarang menatapku, dan bernyanyi pelan mengikuti lagu yang mengalun,

"maybe i didn't treat you, quite as good as i should have...
maybe i didn't love you, quite as often as i could have...
little things that i should have said and done, i just never took the time...
you're always on my mind... you're always on my mind...
maybe i didn't hold you, all those lonely- lonely time...
and i guess i never told you, i'm so happy that you're mine...
if i made you feel second best, girl, i'm sorry i was blind...
you're always on my mind... you're always on my mind..."

bernyanyi seolah dia memang mengatakan semua itu padaku, bernyanyi seolah dia memang bernyanyi untukku.
tanpa peduli ada siapa- siapa disekitarmu, kamu tetap genggam tangan aku didalam sakujaketmu, dan tetap bernyanyi sambil tatap aku.
kamu lalu berkata, "aku bakal bikin kamu seneng...".
dan aku percaya. ya, aku percaya.

entah berapa ratus hari yang lalu aku percaya.
tapi hari ini, entah berapa ratus hari setelah hari itu,
aku tak lagi mampu percaya.
 
Header Image by Reigina Tjahaya