Monday, July 6, 2009

untitled (34)

entah berapa ratus hari yang lalu,
dia menggenggam jemariku di dalam saku jaket hoody nya, menatapku dengan sepasang mata yang beberapa waktu terakhir sudah jarang menatapku, dan bernyanyi pelan mengikuti lagu yang mengalun,

"maybe i didn't treat you, quite as good as i should have...
maybe i didn't love you, quite as often as i could have...
little things that i should have said and done, i just never took the time...
you're always on my mind... you're always on my mind...
maybe i didn't hold you, all those lonely- lonely time...
and i guess i never told you, i'm so happy that you're mine...
if i made you feel second best, girl, i'm sorry i was blind...
you're always on my mind... you're always on my mind..."

bernyanyi seolah dia memang mengatakan semua itu padaku, bernyanyi seolah dia memang bernyanyi untukku.
tanpa peduli ada siapa- siapa disekitarmu, kamu tetap genggam tangan aku didalam sakujaketmu, dan tetap bernyanyi sambil tatap aku.
kamu lalu berkata, "aku bakal bikin kamu seneng...".
dan aku percaya. ya, aku percaya.

entah berapa ratus hari yang lalu aku percaya.
tapi hari ini, entah berapa ratus hari setelah hari itu,
aku tak lagi mampu percaya.

Friday, July 3, 2009

untitled (33)

serpong, tiga puluh tiga hari yang lalu...

--

aku bilang "jangan kelamaan ngga mau punya pacarnya. apa ngga kasian sama aku yang nungguin kamu?"
kamu bilang "aku kasian kamu kalo kamu sama aku.."
alasan paling basi sedunia buat bilang kamu ngga mau aku lagi.

aku bilang "apa ngga lebih kasian sama aku sekarang?"
kamu bilang "aku kasian sama kamu sekarang, dan nanti. jadi aku ngga bisa jadian sama kamu..."
sumpah! kamu nih ngga pinter banget deh cari alasan yang lebih baik buat bilang kamu ngga lagi mau aku.

kamu bilang "kita udah far beyond relationship. kamu udah lebih dari pacar..."
aku ngga mengerti.

aku tanya "jadi kamu mau apa?"
kamu jawab "ga tau..."
kamu selalu ngga tau apa- apa. kalau kamu aja ngga pernah tau apa- apa, lalu bagaimana aku bisa tau?

aku tanya "jadi kamu mau kita begini terus?sampai kapan?sampai bosan?sampai kamu dapet cewe lain?sampai aku dapet cowo lain?"
kamu jawab ngga untuk semua pertanyaan.

lalu aku tanya lagi "jadi kamu mau udahan semua nya?"
kamu lagi- lagi jawab ngga.

aku masih saja bertanya "jadi aku harus gimana? setidaknya bilang sampe kapan aku harus tunggu kamu?"
dan kamu pun menjawab "jangan tunggu aku lagi..."
akupun semakin bingung apa mau kamu.

kamu bilang "sayang banget sama kamu jadi ngga bisa jadian sama kamu karena semua nya bakal berubah.."
lalu kamu bilang lagi, "ngga mau km hurt. karena itu. ga mau kamu sakit lagi aja..."
dan aku bilang "aku ngga perduli ntar nya gimana. even if being with you is hurt me even more... aku ngga peduli..."
lalu aku bilang lagi, "kalo aku ngga mau sakit udah dari dulu aku ngga sama kamu. udah dari dulu aku pilih sayang sama orang lain..."

dan kamu pun bilang "AKU GA PEDULI KAMU GA PEDULI"
tapi aku juga ngga peduli kalo kamu ngga peduli aku ngga peduli.

ntah kamu marah,
ntah kamu hanya ingin aku pergi,
atau kamu memang sunguh- sungguh.
kamu bilang "aku males sama kamu.."
aku yang dari awal sudah menangis tambah menangis membaca kalimat itu.
tapi dasar si otak dungu, masih saja bertanya "kamu masih mau aku atau ngga?"
dan kamu menjawab "ga."
aku cuma bisa senyum, dan bilang "have a nice life" ke kamu. lalu menambahkan "bye" di akhir sms.
kamu bilang "ga mau pacaran. cuma jadi temen aja.."
aku pun menjawab "mending ngga usah sama sekali. jadi temen cuma bikin aku mau kamu. jadi mending ngga usah. lagi pula, teman model apa yang kissing each other? cuddling each other? yang pasti bukan aku dan teman- temanku. mungkin itu kamu dan teman- teman kamu..."

dan kisah kita pun berakhir di sini nampaknya...

--
hari ini?
di postingan tak berjudul ke tiga puluh tiga,
hari ke tiga puluh tiga setelah semua drama ini terjadi,
aku menobatkan kisah ini sebagai sebuah drama saja, bukan lagi realita.

Friday, June 26, 2009

untitled (32)

Mendendang dendang pedih, perih.
Berkisah kisah miris, sadis, tentang tangis.
Diiring lelagu, melantun cerita sedih.
hanya tawa gantung yang tertinggal sementara tangis tak sanggup lagi dimunculkan.
Merindu rindu segala rayu cantik manis yang sempat buat diri tersenyum senyum sampai menangis nangis.
Mengharap harap hilang sajalah semua rasa bercokol terlalu nyaman dalam hati, biar lupa, biar berhenti sudah diri ini mengeluh pedih.

Wednesday, June 24, 2009

untitled (31)

Kering sudah air mata,
Tak lagi tersisa untuk menetes,
Meski hanya setetes.
Pedihnya terlalu perih,
Menangis pun tak lagi cukup,
Masih tetap teriris miris.
Seperti bongkah batu memampat,
Mengganjal hati di dada,
Menyumbat kerongkongan.
Sempat terpikir hanya tak mampu dan tak mungkin yang ada.
Dan nyatanya?
Ketidak mungkin mampuan memang benar ada.
Tapi semua paksa agar mampu.
Sekarang,
Jangankan melupa perih, melupa kasih,
Mengeluarkan setetes air mata saja tak lagi mampu..

Monday, June 22, 2009

untitled (30)

Hari jadi.
Enam hari sebelum hari jadi itu tiba.
Bukannya bersemangat seperti orang- orang lain ketika usianya akan bertambah,
aku malah ketakutan ingin lari jauh, sejauh mungkin, secepat mungkin, kalau mungkin.
Takut semakin tua tanpa bisa semakin dewasa,
Cemas membayangkan satu tahun lagi diawali mata berkaca atau bahkan benar- benar meneteskan air mata.
Khawatir tahun berikutnya hanya akan kembali sia- sia, terbuang- terbuang, masih saja tak bermakna..
Aku bukan benci hari jadi,
Bukan benci ulangtahun,
Hanya takut.
Jadinya enggan..

Saturday, June 20, 2009

untitled (29)

Ku tulikan telinga ku, karena dia,
agar aku tak perlu lagi dengar apapun dari dia, tentang dia.
Ku butakan mata ku, karena dia,
agar aku tak perlu lagi lihat dia, tentang dia.
Ku matikan semua rasa ku,
karena dia,
agar aku tak perlu lagi merasakan dia, tentang dia.

Tapi tetap, aku belum sejagoan dia.
Tanpa menulikan telinga,
Tanpa membutakan mata,
Tanpa mematikan rasa,
Aku telah hilang dari hati, otak dia.

Aku.
Masih saja sibuk berkutat usaha hilangkan dia dari hati, otak.
Semua karena tak mungkin lagi kembali.

Tapi,
Kalau tak mungkin lagi kembali,
Kenapa pula masih di ingatkan?

Wednesday, June 17, 2009

untitled (28)

bukan sekali kita saling mengucap selamat tinggal.
bukan sekali aku berkata benci kamu dan mohon kamu pergi dan hilang total saja dari hidupku.
bukan sekali aku berkata enggan lagi berhubungan dengan mu.
dan jelas bukan sekali aku memaknai dekapmu sebagai dekap terakhir.
bukan sekali pula aku memaknai kecupmu sebagai kecup terakhir.

sedari tadi aku coba ingat mana yang terakhir kali.
bukan karena ingin ingat kamu, tidak.
tapi karena aku hanya ingin mengingat. sekali saja. terakhir kali.
mengapa yang terakhir dikala yang lain mengingat yang pertama?
karena aku sudah jauh lupa yang pertama.
oleh karena nya selama ini aku selalu memaknai setiap dekapmu mungkin jadi dekap terakhir.
tapi kemarin, kali ini, aku salah perhitungan.
aku lupa memaknai nya sebagai yang terakhir.
pertemuan terakhir.
genggaman terakhir.
dekapan terakhir.
kecupan terakhir.
kukira itu semua tak akan jadi yang terakhir.
dan aku pun mencoba mengingat setiap detilnya,
supaya aku ingat itu yang terakhir dan tak lagi rindu dan inginkannya lagi.
 
Header Image by Reigina Tjahaya