Tuesday, May 5, 2009

Jakarta, 2008

lagi- lagi hujan.
tapi kali ini, bukan sekedar air mata langit.
tapi nampaknya langit menangis bahagia.

manusia gegap gempita mengirim segala macam terang kembang api.
buat langitku yang biasa kelam jadi warna- warni.
buat langitku yang biasa sepi sontak ramai riang sorak sorai bikin diri semakin ciut kesepian. [rei]

untitled (18)

Jakarta, 2007

gelap rasanya semakin akrab denganku seolah aku memang sang jahat.
kelilingku makin pekat tak bisa buatku lepas dengan mudah.
aku bosan.
aku nyaris gila.
semua makin edan.
tempatku tidur serasa sarang naga. tak hentinya semburkan api. panas menyala.
tempatku tertawa layaknya kandang lintah. serap habis darahku. perlahan.
tempatku berpijak. tak lain ialah neraka jahanam.
kantuk merongrong. tapi otak enggan istirahat.
berjuta- juta atom perihal berdesak minta dibahas oleh otak yang serasa tak mampu lagi bekerja. lelah cenderung depresi.
mulut mengumpat lancar bak pecut.
hati takut menggeletar.
otak kalut tercarut. berdenyut- denyut menohok.
lama- lama tersungkur juga aku ini di sudut.
meringkuk gemetar.
takut.
dan tak sadar setitik air mata menitik.
dada ini sesak.
koyak tak rasa bahagia.
otak meradang.
menggeletar mau marah tapi tidaklah berhak.
bertanya- tanya dalam hati.
bertanya- tanya entah kepada siapa.
apa tak layak diri ini bahagia? [rei]

Sunday, May 3, 2009

untitled (17)

Jakarta, 2009

Kalau aku bilang aku sedih,
Artinya seperti ada sebongkah batu menyumbat tenggorokanku.
Artinya seperti ada tangan- tangan ekstra meremas hatiku sampai ciut.
Artinya seperti ada berpuluh jarum peniti menusuk- nusuk ulu hati.
Artinya ya aku benar- benar sedih.

Kalau aku bilang aku tak sanggup lagi,
Artinya menghela napas pun terasa begitu berat.
Artinya berdiri tegak pun terasa begitu sulit.
Artinya menggerak bibir untuk tersenyum pun terasa begitu menyiksa untuk dilakukan.
Artinya aku benar- benar tak sanggup lagi.

Kalau aku bilang aku lelah,
Artinya aku telah lelah berjalan.
Artinya aku telah lelah menanti.
Artinya aku telah lelah berusaha untuk kamu.
Artinya aku benar- benar sudah lelah akan kamu.

Kalau aku bilang aku bosan,
Artinya aku bosan tak pernah bahagia.
Artinya aku bosan menanti kamu buat aku bahagia.
Artinya aku bosan dengan keadaan ini.
Artinya aku bosan menyayangi kamu.. [rei]

untitled (16)

Jakarta, 2007

Aku muak dengan hidupku yang tak pernah jauh dari suram dan selalu jauh dari riang.
ceria semu yang terlanjur manja kan diri bikin diri ini jadi ringkih dan langsung pecah ketika terhempas.
sekitarku seakan tak pernah puas gerogoti diri ini sampai lemah tak berenergi.
serasa lintah yang tak pernah puas sedot darah sampai kerontang pada diriku.
aku ini manusia.
bukan manusia baik memang,
tapi punya hati dan bisa rasa sakit.
meski seringkali hati ini serasa beku kadang mati rasa, 
tapi ada kalanya bisa rasakan rasa seutuhnya, depresi berlebih, dan ingin akhiri semuanya supaya bisa berhenti dengar cuapan laknat orang- orang keparat itu. [rei]

untitled (15)

Jakarta, 2009

Aku tau kamu benci ditanya.
Aku tau kamu benci ditanya-tanya oleh aku.
Aku tau kamu benci aku selalu tanya-tanya.
Kamu bilang kamu lelah jawab.
Kamu bilang kamu bosan dengar pertanyaanku yang selalu ku ulang.
Kamu bilang kamu benci ditanya.
Jangan kamu pikir aku tidak lelah.
Aku juga lelah.
Lelah bertanya dalam hati.
Bertanya pada diri sendiri.
Bertanya pada kamu.
Bertanya dan tak dapat jawaban apa-apa dari kamu.
Lelah mengulang pertanyaan.
Tapi semua ku ulang karena kamu tak pernah beri jawaban.
Semua ku ulang karena kamu berubah.
Berubah bikin aku takut jawabanmu yang dulu ikut berubah.
Lagipula apa salahnya jawab aku?
Apa salahnya jawab pertanyaanku sesekali?
Apa salahnya buat aku tau pasti?
Kamu bilang kamu lelah.
Kamu tak pernah tau seberapa lelahnya aku..
Kamu mau aku berhenti bertanya.
Aku mau kamu berhenti menghilang.
Tapi kamu tetap menghilang tinggalin aku.
Jadi kenapa aku harus berenti bertanya ke kamu? [rei]

Saturday, April 25, 2009

untitled (14)

Jakarta, 2006

setelah hengkang sesaat dari perguliran rutinitas panjang yang memuakkan, diri ini harus kembali mencemplungkan diri ke dalam sekeranjang penuh kebosanan akan sebuah rutinitas yang selalu sama.
keluh kesah, desah panjang, terdengar hampir di setiap sudut, protes akan direnggutnya kemalasan masing- masing karena esok, semua akan kembali dalam aktifitas bosan yang selalu sama.
aku tertawa.
tapi bukan karena senang.
aku tertawa,
karena aku ingin tertawa.
mencicipi kebebasan rasa malas terakhir sebelum semua direnggut paksa, sebelum semua terbatasi aturan- aturan buatan ga berguna dan bodoh. aturan- aturan bodoh yang memasung segerobak penuh pemberontakkan insan- insan yang haus akan kebebasan dan membodohi sekeranjang manusia yang jadikan mereka terlalu nyaman di dalam goa ondel- ondel mereka.
lagi- lagi aku tertawa.
merasakan sedikit gejolak hidup ditengah maraknya kestabilan emosi manusia yang terus- terus bosan dan akhirnya berubah jadi penuntut buas dan rakus. gerogoti terus kerangka hidup, buat yang lain takut, dan buat aku kembali tertawa. [rei]

Wednesday, April 22, 2009

untitled (13)

jakarta, 2006

melintang aku di pulau melintang.
tempat aku bermimpi tentang bintang.
bintang cantik, bebas tersebar tanpa kekang.
melayang- layang terbang
bebas menari riang
tanpa tekan menghantam tulang.
lutut bertekuk, luluh lantak, jiwa berang
kala hidup ini melintang tersesat jurang
jauh dari bebas riangnya sang bintang.
jahanam betul sang bintang.
ledek diri renta yang meriang
tanpa sedikitpun niat kembali ke sarang
karena tampak terlalu nikmat merongrong jiwaku yang berang.
hahhh! melintang lagi aku di pulau melintang.
bersama kawan ikut melintang.
merajai pulau melintang
coba hilangkan berang dan kenang
supaya hilang mimpi tentang bintang
yang hanya buatku tambah berang,
dasar bintang jalang di pulau melintang! [rei]
 
Header Image by Reigina Tjahaya